Hiduplah Saat Ini

Di kala terbangun dan berinteraksi hampir selalu, tidak jarang rasanya seperti nothing to lose karena toh masih akan banyak waktu lain yang tersedia buat dihabiskan bersama, panggilan gadget atau interupsi lain lebih menarik atas nama me-time.Padahal belum tentu waktunya masih ada, kan putaran waktu bukan dipunyai sendiri, bukan? Ada yang mengaturnya. Maka pergunakan dengan baik, rasai sampai terdalam.

Di kala pergi pagi, terkadang tak diantar. Boro-boro sampai gerbang depan, pintu kamar saja hanya diintip sedikit. Mata lebih ingin ditutup, jasad lebih ingin ditarik lagi ke dalam hangatnya selimut. Ah, nanti sore juga bersama lagi.. Jumpa lagi. Kan masih banyak waktu, tidur dulu sekarang. Padahal mungkin pagi itu yang terakhir. Gerbang depan rumah menjadi batas terakhir perpisahan suami dan istri. Siapa yang tahu? Kan bukan yang empunya waktu. Nafasilah dengan dalam aroma Bvlgari Aqua tercampur aroma tubuhnya sebelum pupus tersedot bumi. Rasai tajam sisa jenggot tak tercukurnya sebelum semua hilang. Nikmati bibirnya sehabis mengucap “I love you! sebelum hanya diingatan tersisa hangatnya.

Karena bukan yang empunya waktu. Tak tahu kapan berhenti putarannya. Tak tahu kapan yang di depan mata tak terlihat lagi, tak terhirup lagi, tak terasa lagi.

Tak tahu dan tak perlu tahu. Hanya perlu tahu, hiduplah saat ini.

Doa untuk Mereka

Jika saat ini kamu sedang membaca tulisan saya, maukah sejenak berdiam lalu naikkan doa? Entah cara bagaimana kamu berdoa atau kepada siapa doa itu.. Berdoalah dengan caramu. Berteriaklah jika perlu. Kembali kepada Anda pribadi.

Namun, perihal doamu yang perlu kau tahu.. Kuminta persis dan satu tujuan, yaitu buat mereka..

Yang saat ini, sedang duduk termenung dengan perasaan hampa di pojok rumah sakit, yang dingin. Menunggui kekasih hatinya yang berada dekat namun terasa jauh, terpisahkan oleh alam bawah sadar. Doakan mereka.

Yang terhampar di lantai dingin rumah sakit berkarpet tipis dan seadanya dekat ruangan kecil di mana saudara mereka terbaring lemah, dikelilingi malaikat pencabut nyawa yang siap memanggil mereka pulang duluan. Doakan mereka.

Yang mesti rela menghabiskan malam dengan merobohkan badannya, terbaring ataupun duduk, di liuk-liuk kursi pasien rumah sakit yang kaku, berjam-jam bahkan sampai waktu itu bergulir hingga hitungan bulan bahkan lebih. Lelah raga mereka, terlebih jiwanya. Keadaan memaksa mereka menunggu dengan ketir. Terjaga dengan detak jantung kencang setiap kali dokter jaga memasuki ruangan kecil itu. Doakanlah mereka itu.

Yang mereka tidur namun tidak. Terjaga namun berat karena lelah. Bernafas namun lebih ingin mengirimkan hembusan nafas ke kekasihnya atau saudaranya di dalam ruangan kecil itu. Demi lanjutkan hidup bersama. Doakan jiwa mereka yang rapuh.

Yang tak merasakan lagi guliran waktu hanya makin tersesakan oleh rupiah yang perlu dibayarkan ke rumah sakit. Tak menghitungnya meski ingin menuntut kekasih atau saudara mereka harus sembuh, harus pulang dengan berjalan bukan diiringi krans bunga mati.

Doakan lah.. Karena bisa jadi, malam seperti saat ini buat mereka, nanti dirimu yang merasa.. Jika si Empunya Alam Semesta ini menggariskannya.. Atau tidak. Dan kau perlu tambahan kekuatan yang terlahir dari untaian kata penuh makna.

Doakanlah karena doamu, bagaimana pun kau menaikkannya dan kepada siapa, pasti terubahkan menjadi setitik kekuatan buat mereka, setitik air bagi jiwa mereka yang keletihan, angin segar…

Tulisan ini saya tujukan bagi mereka yang menunggui kekasih atau saudaranya di ruangan kecil tertulis ICU itu, saat ini. Doaku untukmu, dan kekasih hati ataupun saudaramu di dalam ruangan kecil tersebut.. Supaya kembali kuat merangkul hidup.

Menuju 9 Juli

Belum lama ini, minggu lalu tepatnya, saya jumpa Adikmu. Beliau pilih nomor satu. Numero uno katanya! Orang-orang dengan wawasan luas dan pintar, menurutku, yang menjadi timses pilihanku dikatai dukun.
“Ya katanya kan orang pintar? Dukun donk berarti!” Kelakarnya dengan nada sinis. Persis dirimu!

Dijembrengkannyalah alasan (yang menurut beliau) rasional untuk mengapa mesti nomor satu. Mulai dari kisah Permesta, Nasakom jaman Soekarno, tentang komunis di Uni Soviet, para pemimpin dunia, isu agama hingga HAM pun dibahasnya. Mana mungkin bisa kubantah meski aku kagumi gaya khas Adikmu yang berapi-api mengutarakan pendapatnya. Meyakinkan meski perlu kubuktikan lagi apa benar isi ceritanya atau beliau hanya sekedar menambahkan bumbu di dalamnya supaya terikut dan kucoblos yang sama dengannya.

Kuperhatikan dengan seksama beliau bercerita di depan kami. Para cucu pun berada dalam ruangan yang sama kala itu meski mata dan fokus mereka kuyakin di gadget ataupun mainan lainnya daripada menyimak Opanya bercerita bagian sejarah Negeri ini.

Kusimak Adikmu bercerita bahkan sempat, sembunyi-sembunyi, kurekam dalam video. Bisa ku-play lagi jika kali lain kurindu sosokmu, pikirku saat itu.

Sayang sekali aku ini bukan penikmat politik, seperti halnya piala dunia. Padahal ingin kumenjadi sparing ngobrolnya tentang si nomor satu, dua ataupun partai mereka juga obrolan lainnya yang menjadi turunan dari topik itu. Persis kala dirimu masih ada dulu. Kala kau bawa kami ke rumah Adikmu ini, bertamu, saat liburan kenaikan kelas. Kopi dan obrolan kalian yang serupa cresendo pasti takkan terelakkan untuk dinikmati bersama. Entah siapa yang tidak ingin dipatahkan argumennya, namun bukankah biasanya dirimu yang duluan naik darah?

Baru-baru juga kutemui seseorang yang mirip gayamu. Gaya kerasmu tentang satu yang kau yakini itu benar. Dia sepupumu. Beliau pun secara lantang memilih yang berbeda dengan pilihanku. Alasannya sedikit berbeda dari Adikmu tapi ah bukan isinya yang buat kuingin menyimak. Melainkan pembawaannya yang buat kuingat dirimu. Persis.

Bagaimana tak kurindu dirimu? Ingin kutahu siapa yang kau pilih jika masih ada jasadmu saat ini, satukah atau dua? Sama atau berbedakah pilihan kita? Akan berdebat seperti apa jika kita berbeda? Bolehkah kusanggah ucapanmu? Tetapkah kau lihat aku sekadar anak kecil yang tak mengerti politik?

Bahkan lebih daripada semua pertanyaan itu..

Kuingin tahu bagaimana kau lihat aku, anak bungsumu ini? Obrolan apa yang dibahas dirimu dengan suamiku? Bagaimana kau mendekap cucumu? Hal apa yang kita perdebatkan perihal Letisya? Mainan apa yang kau belikan untuknya? Kau yang tegas itu.. Ah kurindu!

Tanpa Titik

Bahkan belum tertuang apapun ke dalam layar putih kosong yang adalah tempat kumpulan kata teruntai menjadi sebuah karya hasil pemikiran akan banyak hal yang terhasilkan berupa sebuah keindahan maupun yang belum sempat tertangkap jiwa sampul indahnya sudah kuingin menangis guna kosongkan jiwa dan raga hingga kembali ringan bagai sehelai bulu berwarna putih yang lepas dari biangnya kemudian tertiup angin sepoi dan membuatnya tertunda menyentuh tanah yang sering dikatakan kotor oleh mereka yang pemikirannyalah hina dan perlu diibakan ciptaan lain yang bermartabat lebih kokoh dari sehelai bulu berwarna putih nan suci dan tanpa dosa

20140515-220422.jpg

Best Moment of Being a Mom is When..

Your baby got asleep on your shoulder when you were singing lullaby to her/him.. Even though you can’t barely move and worry to wake her up again but that’s worth to smell the cajuput oil and the baby’s breath near you

Your baby recognise you in middle of hustle or in my case, when I was in midst of wedding party and my baby was carried by friend(s). She was playing around with them but when she was catching my eyes, she smiled. I know her eyes were like saying, “You are still the most special person in my life, Mommy!”

You are nursing her/him and they are starring at you.. Their tiny hand holding you and don’t wanna let you go/move away. They believe in you no matter what. Tho you haven’t bathe yet, they only want you to be with them..

Your baby is able to reach your cheeks and rubs it gently, like she was saying, “That’s OK, Mommy.. Everything’s gonna be just fine.”

Your baby is giving you their big laugh for the first time, like you are the most entertaining person in the world and you believe those laughs turn into fairies

If your baby is one (or two?) little gurl, you act like a fashion stylist and put on her tutu with those itsy-bitsy pink shoes and little-missy-look-alike-hat even though you guys are not going anywhere.. She is definitely your living doll!

Taking selfie is now about you and your baby.. Sometimes no Daddy on the pic and you just don’t care as long as those beautiful lil eyes were captured with you..

20140515-221858.jpg
And when you know you have given them the best things you could.. Because their childhood is only one time and wouldn’t be repeated..

229109_10150188349001818_8342311_n

The Roses and Her

Hanya beberapa jam saya habiskan bersamanya, pada kesempatan itu. Mendarat di kota yang sama dengannya di tengah malam sebelum menemani beliau melewatkan sembilan jam di dalam ruang operasi, keesokan harinya. Pengangkatan tumor ganas di ususnya. Hanya sekali, seingat saya, beliau masuk ruangan serupa seumur hidupnya yaitu kala pengangkatan ‘tamu tak diundang’ di rahimnya. And that has happened so long ago.

Tentu bukan sebuah perjuangan yang mudah melawan rasa takut dan kekhawatiran baginya mengenai proses operasi berlangsung maupun hasilnya, meski saya yakin beliau kuat. Oh, beliau wanita yang sangat kuat! Selalu berusaha sekuat tenaga menyembunyikan perasaan di hadapan kami, anak-anaknya. “Mama nggak papa kok! Sudah nda usah nangis! Mama cubit nanti… ,” ujarnya menghibur saya yang tak tertahankan untuk tidak mewek di pelukannya.

Sehari setelah operasi tersebut, saya harus langsung berangkat mengikuti training kantor di negara lain. Berpamitan dan menciumnya di ruang ICU, saya memohon blessing karena selalu saja saya percaya restunya merupakan obat mujarab dalam menghadapi ‘peperangan’ bentuk apapun di hidup saya.

Sebenarnya saya rindu membawakan seikat mawar segar nan wangi, sebelum terbang menemuinya. Ingin saya pilih yang merah, simbol kekuatan dan kekokohan, like how she has always been.. Too bad that I couldn’t make it true.. And I feel so so sorry to myself!

But well.. saya mendapati perwujudan exactly same like what I expect to give her saat saya menyusuri pertokoan. I purged my sin by sending her pictures of these lovely flowers;

230604_10150188347996818_7243682_n

229109_10150188349001818_8342311_n

Beliau membalas dengan titik dua dan garis melengkung, an icon that I understood she was so grateful getting my pictures ……. And again, she was the one that empowering me, sending me encouragement and strengthen me. 

Aaah… perlu sejenak untuk meredakan kecamuk rindu ini bercerita tentang beliau, saya dan si mawar. Beliau yang telah dua bulan ini pergi diiringi tangis dan taburan mawar. Kembali ke rumah yang kekal.

Saya percaya di rumahnya yang sekarang, di sana, tidak ada lagi segala air mata dari matanya, dukacita, tidak ada lagi kesakitan, hanya kebahagiaan dan cinta.

Saya percaya di rumahnya yang sekarang, di sana, terhampar kebun mawar indah penuh warna nan semerbak wangi.

Selamat jalan, Mama
Selamat Jalan, Mama

*Inspired by this story

 

Momen

Malam ini. Saat ini. Detik ini.

Hanya saya dan pemikiran saya. Mengenai banyak hal yang ada, yang tidak ada, yang sudah pernah ada namun punah.

Hanya saya dan pertanyaan yang terlintas. Mereka, ya, mereka karena tidak hanya satu namun beberapa. Tidak semua memerlukan jawaban, mereka hanya melintas menyapa dan berusaha memenuhi ruang otak. Perlu segelas atau bergelas-gelas kopi panas jika ingin memecahkan semuanya. Walau tentu buang waktu, untuk saat ini, karena teman mereka pun akan kembali hadir. Pertanyaan lainnya tentang ini dan itu. Jadi sudahlah, diamkan dahulu sejenak. Karena malam ini, saat ini, detik ini, saya dengan diri saya dulu, tanpa kopi panas.

Hanya saya dan playlist yang bertugas menemani beberapa jam saya ke depan sampai saya tidak sendiri lagi. Sampai dia yang malam ini, saat ini, detik ini, sedang tidak bersama di ranjang ini, datang. Atau sampai si dia yang walau sedang bersama di ranjang namun diam, pulas akibat terkenyangkan oleh air susu saya. Sampai dia bangun maka saya tidak sendiri lagi.

Saya dan kerinduan saya terhadap mereka. Ataupun impian saya untuk kami.

Saya dan suara ketikan tulisan. Lalu dihapus. Ditulis dengan kata-kata lain demi suatu makna lebih indah.

Malam ini. Saat ini. Detik ini.

Saya saja, minus secangkir kopi panas.