too loud. too noisy.

apa ini yang aku dengar. seperti suara yang tak asing. aku lupa apa namun aku ingat suara ini ingin aku enyahkan. karena bising seperti suara tempat makan nirlaba di waktu makan siang. bahkan mau berkata satu kata pun kumemilih untuk diam saja.

apa ini yang aku dengar. seperti suara rekaman radio, TV, video online yang baru-baru ini aku dengar. kenapa terekam di memori, padahal hanya tentang sesuatu bukan urusanku. paling tidak, bukan urusanku secara langsung. ada yang tentang artis ditangkap karena psikotropika, tentang koar-koar kenegaraan, tentang wanita yang sebenarnya lelaki. gaduh sekali memenuhi ruang otakku.

apa ini yang aku dengar. tangisan malaikat kecil yang terbangun di tengah malam mencari pentil ibunya untuk dikenyot. aku yakin dia butuh kenyamanan dan kehangatan. sama. sama dengan aku. apakah itu tangisku sebenarnya? atau tangis anakku? atau tangis anak anjing terbuang di lapangan sebelah rumah?

kebisingan ini apakah akan cepat berlalu bersama angin? atau bersama pesawat yang lepas landas? atau bersama hisapan penyedot debu? dengan apapun, aku hanya ingin dia berlalu. dan diam.

diam. padahal dari tadi tak sepatah katapun kuucapkan. aku sedang sendiri di satu sudut kota besar. di tengah lalu-lalang orang kota yang kejar setoran.

sudah dulu. terlalu berisik.

Advertisements

Hiduplah Saat Ini

Di kala terbangun dan berinteraksi hampir selalu, tidak jarang rasanya seperti nothing to lose karena toh masih akan banyak waktu lain yang tersedia buat dihabiskan bersama, panggilan gadget atau interupsi lain lebih menarik atas nama me-time.Padahal belum tentu waktunya masih ada, kan putaran waktu bukan dipunyai sendiri, bukan? Ada yang mengaturnya. Maka pergunakan dengan baik, rasai sampai terdalam.

Di kala pergi pagi, terkadang tak diantar. Boro-boro sampai gerbang depan, pintu kamar saja hanya diintip sedikit. Mata lebih ingin ditutup, jasad lebih ingin ditarik lagi ke dalam hangatnya selimut. Ah, nanti sore juga bersama lagi.. Jumpa lagi. Kan masih banyak waktu, tidur dulu sekarang. Padahal mungkin pagi itu yang terakhir. Gerbang depan rumah menjadi batas terakhir perpisahan suami dan istri. Siapa yang tahu? Kan bukan yang empunya waktu. Nafasilah dengan dalam aroma Bvlgari Aqua tercampur aroma tubuhnya sebelum pupus tersedot bumi. Rasai tajam sisa jenggot tak tercukurnya sebelum semua hilang. Nikmati bibirnya sehabis mengucap “I love you! sebelum hanya diingatan tersisa hangatnya.

Karena bukan yang empunya waktu. Tak tahu kapan berhenti putarannya. Tak tahu kapan yang di depan mata tak terlihat lagi, tak terhirup lagi, tak terasa lagi.

Tak tahu dan tak perlu tahu. Hanya perlu tahu, hiduplah saat ini.